Ada ungkapan dalam budaya bahasa inggris: “I dress to impress” yang kurang lebih bermakna “aku berbusana untuk menarik perhatian”. Menarik perhatian atau meninggalkan kesan pada orang lain tentunya.
Sepertinya, ungkapan semacam itu sejalan dengan keadaan sebagian dari kita. Kita pilah-pilih baju, kita padu padankan setelan dan warna, kita tambahkan pernak-pernik dan aksesori agar kita bisa tampil menarik di depan orang lain. Kalau bisa, kitalah yang menjadi pusat perhatian melalui cara berbusana kita. Hingga tak jarang, orang saling berlomba untuk berhias diri dan menciptakan atau memakai busana ‘hanya’ untuk memperoleh perhatian orang lain. Agar tidak dibilang kampungan, ketinggalan mode, atau tidak sesuai ‘dress-code‘, atau sekedar mengikuti cara berbusana teman atau artis pujaan, seringkali nilai-nilai kesopanan, kepatutan, moral dan agama dilanggar.
Benarkah cara berbusana seperti itu. Untuk siapakah kita berbusana? Untuk kita sendiri ataukah ‘tunduk’ kepada ‘tekanan’ dan pandangan orang lain?
Sebagai muslim, tidak sepantasnya kita menyerahkan diri kita kepada ketundukan selain dari Allah. Demikian juga dalam hal berbusana. Islam telah memberikan beberapa garis besar tata cara dan aturan mengenakan pakaian. Sesuai dengan aturan dari Allahlah hendaknya kita berbusana, bukan demi manusia.
Hikmah-dalam-gambar-niat-berbusana

Ayo berbagi!